Rafly Jatilukito Ajak Generasi Muda Kawal September Hitam dengan Aksi Damai

JABAR 1 NEWS

- Redaksi

Kamis, 10 September 2026 - 13:12 WIB

507 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Momentum September Hitam kembali menjadi ruang refleksi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk merawat ingatan kolektif terhadap berbagai persoalan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) sekaligus mendorong negara agar terus memperkuat komitmen terhadap demokrasi dan keadilan.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Rafly Jatilukito, Sekretaris Jenderal Basecamp Demokrasi sekaligus tokoh senior di komunitas pelajar, melalui keterangannya, Kamis (10/9).

Ia menegaskan bahwa, mengingat sejarah bukan berarti membuka kembali luka untuk menciptakan permusuhan, melainkan menjadi bagian dari upaya memastikan tragedi kemanusiaan tidak kembali terulang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Perjuangan mengingat sejarah bukanlah upaya untuk membuka kembali luka demi menciptakan permusuhan, melainkan ikhtiar untuk memastikan bahwa tragedi kemanusiaan tidak kembali berulang,” ujar Rafly.

Menurut Rafly, negara perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap berbagai persoalan pelanggaran HAM, membuka ruang transparansi, serta memastikan setiap proses hukum berjalan secara independen dan berkeadilan.

Keadilan bagi korban, kata dia, bukan hanya persoalan moral, tetapi juga merupakan tanggung jawab negara terhadap warga negaranya.

Rafly juga menilai, demokrasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai kebebasan menyampaikan pendapat. Demokrasi harus diwujudkan melalui keberanian negara untuk mendengar kritik dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi dalam memperbaiki kebijakan.

“Kritik terhadap pemerintah, aparat, maupun institusi negara merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis selama disampaikan berdasarkan data, argumentasi, dan kepentingan publik,” katanya.

Karena itu, ia menyerukan agar seluruh pihak mengedepankan dialog, keterbukaan, dan mekanisme hukum dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang menyangkut hak-hak masyarakat. Pendekatan represif, menurutnya, tidak seharusnya menjadi pilihan dalam menghadapi kritik dan perbedaan pendapat.

Lebih lanjut, Rafly menyebut, September Hitam harus menjadi momentum bagi generasi muda untuk membangun kesadaran kritis terhadap perjalanan bangsa.

Ia menolak segala bentuk pengaburan sejarah, pembungkaman suara korban, maupun politisasi penderitaan manusia untuk kepentingan kelompok tertentu. Namun, perjuangan tersebut harus tetap dilakukan dalam koridor etika, hukum dan kemanusiaan.

“Kami percaya bahwa suara yang lantang tidak harus diwujudkan melalui kekerasan. Keteguhan sikap justru dapat ditunjukkan melalui argumentasi yang kuat, disiplin massa, dan aksi yang tertib,” tegasnya.

Rafly mengajak seluruh peserta aksi September Hitam untuk menjadikan momentum tersebut sebagai ruang refleksi sekaligus konsolidasi moral dalam memperjuangkan Indonesia yang lebih demokratis, adil dan menghormati HAM.

Ia menegaskan tiga hal utama yang menjadi pesan dalam momentum tersebut, yakni kebenaran harus dibuka, keadilan harus ditegakkan, dan negara harus memastikan adanya jaminan agar pelanggaran HAM tidak kembali terulang.

“Kami menyerukan kepada seluruh peserta aksi untuk menjaga perjuangan ini tetap damai, kritis, tertib, dan bermartabat. Perjuangan yang besar tidak membutuhkan kerusakan untuk membuktikan keberaniannya,” pungkas Rafly. (Red).

Berita Terkait

VIRAL! Bedah Buku Internasional UI: Karya Mahasiswa S2 Gizi FKM USU Ditetapkan Sebagai Referensi Akademik Banyak Terima Hadiah Atas Prestasinya
“Aduan terhadap Budi Arie Dipersoalkan, Pengamat: Bedakan ” Pengandaian ” dengan Pernyataan Dugaan Makar
Mabes Polri Gelar Bhakti Sosial, untuk Ratusan Pengemudi Ojol di Ragunan
PERON 26 Satukan Driver Online Nasional, Perjuangkan Kesejahteraan dan Kepastian Hukum
Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup
Exploring Bandung’s Natural Wonders: From Volcanic Landscapes to Majestic Waterfall
The Evolution of Jakarta: From Colonial Capital to Modern Metropolis

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 08:55 WIB

Membawa Visi “Kalijaya Juara”, Hj. Ani Siti Rohmah Meraup suara Terbanyak

Jumat, 18 September 2026 - 20:46 WIB

Ruang Kerja PLT Bupati Bekasi Di Segel, SatPol PP Kemana?

Jumat, 18 September 2026 - 17:08 WIB

LSM KOREK Soroti Dugaan Penganiayaan Anggotanya di Kantor BPN Kota Bandung

Senin, 14 September 2026 - 12:10 WIB

Petani Laporkan PT Indra  Prasta Indonesia Bekasi ke KLH Diduga Buang Limbah B3 ke Sungai

Jumat, 11 September 2026 - 20:49 WIB

Cimahi Tuan Rumah Dialog Budaya Jabar 2026

Kamis, 10 September 2026 - 20:52 WIB

PAWANG RONDA Jadi Jembatan Aspirasi Warga Cimahi Selatan

Rabu, 9 September 2026 - 12:46 WIB

Kontingen Cimahi Resmi Diberangkatkan ke Porprov XV Jabar

Jumat, 4 September 2026 - 20:05 WIB

Segarkan Birokrasi, Pemkot Cimahi Lantik 18 Pejabat Baru

Berita Terbaru